Tonde

 

Warga Kaitaro menggunakan bahasa Irarutu yakni bahasa suku Irarutu. Salah satu suku yang ada di kabupaten ini. Suku-suku tersebut ialah wamesa, sumuri, sebyar, kuri, moskona, sough, dan irarutu. Mereka kaya akan suku, satu kabupaten saja memiliki tujuh suku bagaimana jika ditambah dengan semua suku yang ada di Papua.

Ada hal unik yang ku temui di sini  dan membuat saya berdecak kagum yakni mereka sangat menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Aku tak merasa sungkan bercakap dengan Tete dan Nini (kakek-kakek dan nenek-nenek) karena mereka fasih berbahasa Indonesia. Ini hal yang cukup berbeda menurutku sebab di pedalaman seperti ini semua kalangan fasih berbahasa Indonesia. Di pedalaman kampung halamanku misalnya, sangat jarang ku temui kakek-nenek yang bisa berbahasa Indonesia karena mereka telah terbiasa dengan bahasa derahnya.

Beberapa peran adat di kampung ini juga membuat saya menemukan hal baru, misalnya dalam penentuan mas kawin bagi anak perempuan dan pengaturan perkawinan anak laki-laki, peran ayah sangatlah kecil. Adat juga berfungsi dalam memberikan hukuman bagi pelanggar dengan pemberian denda. Denda dalam hal ini disesuaikan dengan kesepakatan antara pihak yang dirugikan dan juga kesepakatan para tetua adat. Misalnya, tidak sengaja menabrak hewan peliharaan seperti anjing atau babi. Jika pemiliknya keberatan, si penabrak dapat dikenai denda bahkan hingga ratusan juta.

Di hari pertama sekolah, dengan semangat yang menggebu-gebu, ku langkahkan kakiku menuju sekolah. Setelah rapat pembagian tugas dengan kepala sekolah dan guru-guru SMP Negeri Kaitaro, aku diberi amanah untuk memegang mata pelajaran IPA. Walaupun Basicku adalah guru fisika, tetapi karena sekolah penempatan yang aku dapatkan adalah SMP maka pelajaran Fisika, Biologi dan kimia disatukaan dalam mata pelajaran IPA terpadu. Tak hanya pelajaran IPA saja yang aku emban, melainkan mata pelajaaran bahasa indonesia, seni budaya, TIK dan agama Islam. Guru lain pun seperti itu, merangkap menjadi guru mata pelajaran yang bukan bidangnya. Guru di sekolah ini hanya tiga orang saja yang terdiri dari guru kontrak sedangkan hanya kepala sekolah saja yang guru PNS. Tentu karena masalah kekurangan guru di daerah 3T, maka setiap guru perlu memegang beberapa mata pelajaran lainnya.

“Selamat pagi anak-anak” sapa ku pada siswa kelas IX saat berjalan memasuki kelas mereka.

“Selamat pagi bu guru” jawab mereka serentak.

Kelas pertamaku adalah kelas IPA di kelas IX. Jumlah siswa di kelas ini hanya 11 orang. Setelah memasuki kelas, mereka berdoa sebelum belajar. Di sekolah ini mayoritas kristiani, maka cara berdoa mereka menggunakan cara mereka. Aku pun ikut menundukkan kepala, mendengarkan bacaan doa mereka. Di dalam hati berdesir rasa yang mungkin dirasakan oleh orang-orang agama minoritas saat di Sulawesi. Dan sekarang aku memahami perasaan itu.

Setelah berdoa, aku mulai mengabsen mereka. Aku ingin mengenal mereka terlebih dahulu, sebelum memperkenalkan diri sendiri.

“Baiklah ibu guru absen kalian dulu yah. Dengar namanya baik-baik” Mereka duduk manis memperhatikan aku dengan seksama.

“Reflans Fenetiruma” aku mulai membaca daftar nama mereka

“Hadir Bu guru”

“Cita-citanya reflans mau jadi apa?” aku menyematkan pertanyaan ini setelah mengetahui nama, ku rasa penting untuk mengetahui cita-cita setiap siswaku.

“Polisi Bu guru”

“Wahhh.. keren. Kalau mau jadi polisi. Reflans harus bagaimana?”

“harus jago berkelahi Bu”

“hehehe..bukan berkelahi tetapi bela diri. Beda maksudnya itu Reflans. Iya toh??”

“itu sudah bu guru. Hehehehe”

“Nah dengar bu guru dulu semua, apa pun cita-cita kalian yang paling penting yang harus dilakukan sekarang adalah?” tanyaku pada seisi kelas.

Semua terdiam. Mungkin sedang berpikir.

“Belajar dan rajin sekolah bu guru” tiba-tiba seorang anak yang duduk di pojok menjawab dengan lantang.

“iya Bagus. Kalian cerdas-cerdas ya. Yang jawab tadi, namanya siapa?”

“Dince Tatuta bu guru. Panggil saja Dince” jawabnya dengan tersenyum girang.

Dince tampak berbeda. Suaranya lebih merdu dari yang lain, senyumnya lebih ramah, fisiknya pun berbeda dari teman-teman kelasnya. Dince adalah satu-satunya siswa perempuan di kelas ini. Sangat berbeda lagi dari daerah tempatku yang kebanyakan siswanya adalah perempuan. Di sini anak-anak perempuan seusia mereka telah banyak yang berkeluarga sehingga mereka tak lagi dapat melanjutkan sekolah.

“Ok. Ibu guru lanjut absennya ya.

Muhammad Alfaris Tatuta. Nama panggilannya Alfaris kan?”

“Bukan bu guru, panggil Minggu sudah “

“He? Minggu? Baiklah kalau kamu suka dipanggil begitu” paksaku mengiyakan. Aku tiba-tiba teringat dengan seorang tetangga kampungku dulu di Sulawesi. Namanya Daeng Jumat. Nama beliau juga salah satu nama hari. Rupanya ada juga yang mengambil hari minggu sebagai nama panggilan.

“Sakeus Fendi Tatuta”

“Hadir Bu guru”

“Rusli Tatuta”

“Hadir Bu guru”

“Kalian yang pu nama Tatuta bersaudara semua kah?” tanyaku penasaran karena di kelas ini ada beberapa orang yang nama akhirnya Tatuta.

“Tidak saudara kandung Bu guru. Tetapi kitorang satu marga” jelas Sakeus.

“ohh begitu, disini kalian pu nama marga to. Jadi marga apa saja yang ada?” tanyaku makin penasaran.

“Marga Tatuta paling banyak Bu guru, ada juga marga Refideso yang dari kampung wargnusa, ada juga marga Fenetiruma yang dari kampung Tugurama, kalau yang dari kampung Suga marganya Murmana Bu guru” jelasnya.

20160512_080859

Distrik kaitaro ini terdiri dari tujuh kampung yakni Kampung Sara, tugurama, warganusa I, warganusa II, suga lama, suga baru dan furere. Jarak dari satu kampung ke kampung lain bisa memakan waktu seharian jika ditempuh dengan berjalan kaki. Namun bisa ditempuh dengan longboat juga yang hanya mamakan waktu sejam dua jam. Hanya ada satu sekolah SMP dan SMA yang letaknya di kampung Sara sebagai kota distrik, maka siswa-siswa yang dari kampung lain tinggal bersama keluarga mereka di kampung Sara maupun barak yang disediakan oleh distrik jika ingin melanjutkan sekolah.

“Wahhhh.. Bu Guru makin penasaran dengan kalian semua ini. baiklah nanti kita lanjut cerita-ceritanya ehh. Sekarang Bu guru mau bercerita tentang petualangan belajar apa saja yang akan kalian dapatkan di kelas bersama bu guru. Kalian penasaran toh? Ohh iya kalian mau kah tidak kenal nama bu guru dulu?” ku tatap wajah-wajah penuh dengan rasa ingin tahu mereka.

“Mau bu guruuuuuuu” jawab mereka serentak.

***

Selain beradaptasi dengan bahasa, adat mereka, dan dengan para siswaku. Tentunya aku pun harus beradaptasi dengan lingkungan di sini. Setiap pagi saat di sekolah, suara burung-burung bagaikan instrument musik yang mendukung aktivitas belajar di kelas. Bahkan suara burung cendrawasih yang saling bersahutan dapat terdengar. Tak jarang kami melihat burung cendrawasih melintas di luar jendela kaca maupun hinggap di pohon samping sekolah. Di siang hari, didapati anjing-anjing yang berkeliaran mencari mangsa di hutan dan sorenya mereka berbondong-bondong pulang ke kampung melintas di jalan depan rumah hunianku. Di malam hari, suara jangkrik dan semacamnya memecah kesunyian malam. Tak ada suara bising kendaraan, hanya suara bermacam-macam hewan yang mengisi hutan. Aku sering melihat kunang-kunang menerangi semak-semak di depan rumah, bahkan ada satu pohon di jalan menuju kampung yang ku jatuh cintai. Pohon itu dihiasi oleh sekumpulan kunang-kunang, cantik.

~~“Pekerjaan tak hanya memberimu imbalan materi, namun lebih dari itu. Nilai kebersamaan dan kebahagiaan saling berbagi sebagai PROSES untuk tahu bagaimana kita bisa menjadi lebih bijak dan memahami hakikat KEBERADAAN Kita”~~

2 respons untuk ‘Tonde

  1. nunuasrul 13 Maret 2017 / 11:27 pm

    serunya uniiii :”D selalu suka ceritanya unii :”)

    Suka

    • Green Frequency 24 Mei 2017 / 8:50 am

      terimakasih kak… mohon dikoreksi jika ada yang keliru di penulisannya. hehehe

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s