Hi Kaitaro!

Selasa, 25 Agustus 2015

20160110_131459.jpg

Sungguh mempesona, laut tampak biru terbentang. Riaknya menari-nari indah. Langit pun tak mau kalah beradu keindahan dengan laut. Laut dan langit seolah bersekongkol membuatku berdecak kagum. Mereka seolah membuatku berada di sebuah ruang semu berwarna biru merasakan bulatnya bumi. Dan aku adalah titik kecil yang terdampar di bentangan biru itu.

Perjalanan dari kota Bintuni menuju distrik kaitaro begitu mendebarkan. Perjalanan menggunakan kapal selama 4 jam menuju pelabuhan Babo (transit) menyeberang teluk kemudian dilanjut dengan perahu kecil yang disebut longboat memakan waktu 3 sampai 4 jam memasuki muara. Longboat itu hanya mampu ditumpangi 8 sampai 10 orang berbaris ke belakang. Panjangnya sekitar 5 meter sedangkan lebarnya tak cukup 1 meter. Di tengah laut yang entah kedalamannya berapa meter itu, aku tak pernah luput dari mengingat Tuhan. Bagaimana tidak, perahu kecil ini berada di atas lautan seluas itu, memberiku pelajaran bahwa betapa kecilnya manusia di hadapan Sang pencipta.

Berada di atas longboat selama itu membutuhkan kesabaran ekstra; posisi duduk yang tak berubah, menahan panasnya matahari yang menjilati kulit, hingga ditampar oleh percikan ombak, bahkan baju basah akibat serangan air laut yang kemudian kering dengan sendirinya.

Setelah beberapa jam di lautan kemudian memasuki muara, di  sisi kanan kiri yang ku lihat hanyalah hutan bakau, indah sekali. Ini pertama kalinya aku melihat pohon mangrove yang biasanya hanya melalui buku saja ku baca. Sebuah gugusan sabuk hijau yang melingkar di sepanjang pesisir Bintuni merupakan ciri khas tersendiri di banding kawasan lain di papua. Wajar saja menjadi ciri khas, gugusan mangrove ini merupakan formasi terluas di asia tenggara serta terbesar kedua di dunia setelah Brazil.

Sesekali di antara kerimbunan pohon terlihat burung yang sedang hinggap. Ada pula yang berterbangan kesana-kemari, berdiri di ranting tumbang yang mengapung di atas permukaan air. Cantik sekali, aku menyukai pemandangan-pemandangan seperti ini. Suara kicauan burung terdengar membuyarkan kesunyian. Dan lagi aku terkesima dibuatnya.

“Karena di setiap sudut bumi, akan kita temukan kesyukuran”

Setibanya di jeti kampung Sara tempat perahu berlabuh, hutan tampak terlihat hijau, bersih, dan alami. Udara begitu sejuk. Tak ada lagi asap knalpot kendaraan seperti yang sering dihirup di kota-kota. Jangankan mobil ataupun motor, sepeda pun tak bisa digunakan di kampung ini sebab medan yang terjal. Di distrik kaitaro ini, aku ditempatkan bersama 3 rekan yaitu Bulan, Lina dan Irvan.

Kami disambut oleh anak-anak kampung Sara. Rupanya mereka menunggu kedatangan kami. Barang-barang bawaan kami, mereka bantu membawanya menuju rumah tempat kami tinggal. Jarak dari jeti menuju rumah cukup jauh. Kami melewati hutan dan berjalan sekitar 1 kilometer, kemudian barulah terlihat gedung atap sekolah. Rumah yang kami tempati bersebelahan dengan sekolah. Rumah itu adalah rumah yang memang disediakan untuk guru-guru yang mengajar di sekolah itu.

Selang beberapa menit, kedatangan kami disambut oleh hujan. Mulanya kampung ini gersang oleh kemarau, kini hujan membasahi tanahnya. Bau tanah basah, aku pun menyukainya.

”Sepertinya semesta pun turut bahagia atas kedatangan kalian” kata pak kepala sekolah saat mengantar kami ke rumah.

Di kaitaro, tepatnya di kampung sara sumber air hanya dengan menampung air hujan. Suatu kesyukuran setibanya disini, kami tak kesulitan dengan air.

“Langit selalu punya cara membuat penghuni kolongnya

merasa berterimakasih”

Rumah itu terbuat dari kayu. Berdiri kokoh di atas ketinggian sekitar setengah meter hingga dua meter karena dibangun di lahan yang miring. Berkamar dua, sebuah ruang tamu sederhana dan dapur yang sempit. Ada penampungan air di belakang rumah yang bisa menampung 1200 liter air jika hujan. Tidak ada televisi, tidak ada kulkas, atau kipas angin. Semua sederhana. Listrik yang digunakan hanya menggunakan genset milik sekolah, yang hanya dinyalakan pada pukul 18.00 WIT sampai 22.00 WIT. Cukuplah untuk penerangan di waktu malam. Demikian pula dapur, kami harus memasak dengan menggunakan kayu bakar. Aku yang sejak memasuki rumah dan telah melihat segala fasilitas yang ada hanya tersenyum-senyum tabah.

“Inilah yang namannya 3T, terdepan, terluar dan tertinggal” jelasku mengingatkan tujuan penempatan kita yang memang akan seperti ini.

“Saatnya berjuang kawan-kawan” kata Irvan menguatkan.

“Ya seperti motto kita, berjuang atau pulang saja!” sambung Lina.

Tawa kami pun pecah. Itulah yang bisa kami lakukan. Saling menguatkan dan saling menertawakan. Karena mengeluh takkan membuahkan apa-apa.

Rumah ini sudah lama tidak dihuni. Jadi wajar jika terlihat horor dan meyedihkan. Hahahaha. Setelah kami bersihkan, dengan seketika rumah itu kami sulap menjadi istana bagi kami. Menurut kami sih. Hehehe. Dinding-dinding kayunya kami tempeli dengan foto-foto narsis kami. Papan lantai ruang tamu kami lapisi karpet secukupnya, karena tak ada kursi. Begitupun kamar tidur yang hanya beralaskan karpet saja. Tak ada tempat tidur, kasur, bantal, selimut, atau semacamnya.

“Ini kamar kita?, kasur mana? Tempat tidur? Bagaimana dengan bantal??” Tanya Lina memastikan.

“Ya, kita pakai yang ada saja. Apapun bisa kita pakai sebagai bantal. Maklum ini kan rumah tak berpenghuni, mana ada hal semacam itu tersedia. Kita pun datang hanya membawa barang bawaan seadanya saja. Hanya membawa satu tas pakaian dan perlengkapan mengajar kesini”

Yah hanya senyum ketabahan yang dapat ku lontarkan saat itu ketika Lina  bertanya bagaimana dengan tempat tidur kami kelak. Peralatan dapur pun hanya mendapat pinjaman dari rumah kepala sekolah.

Selain beradaptasi dengan rumah baru, tentunya kami perlu berusaha beradaptasi dengan bahasa mereka terlebih dahulu. Sulit sekali memahami gaya bahasa mereka. Aku kadang masih terbengong lama memandangi mereka berbicara, berusaha memahami apa maksud dari kalimat mereka. Ah lucu sekali, bagiku yang terbiasa dengan dialek Makassar, tentu merasa canggung yang tiba-tiba berubah menjadi dialeg Papua. Dengan ciri khas bahasanya “itu sudah”, “itu lagi” dan “tara ada” dan dengan gaya bicara yang cepat.

Setiap pagi kami harus menjawab salam berkali-kali, karena rumah kami hanya sekitar beberapa meter dari gerbang sekolah. Maka setiap mereka lewat di depan rumah, sapaan salam mereka tak pernah absen.

“Mumtie dire (selamat pagi)” sapa mereka.

Setiap pagi, sapaan salam mereka menjadi pelengkap bagi semangat pagi kami. Di sini memberi salam seperti itu bukan hanya sebagai kewajiban saja, melainkan suatu kebutuhan untuk saling mempererat hubungan sesama manusia. Jangankan anak-anak sekolah, para orang tua dan masyarakat pun demikian, setiap kami berpapasan di jalan saat kami berkunjung ke kampung, tak pernah absen sapaan itu dari mereka. Begitulah para guru disini sangatlah di hormati.

“Re dire Bu guru”, di kala siang hari,

“Refefa dire Bu guru”. di saat sore hari,

“Gisie dire Bu guru”. di saat malam hari.

Suatu sore, ketika pertama kali mengunjungi kampung. Dari ujung jalan, terlihat seorang anak berjalan dari arah yang berwalanan. Dia ingin menyapa tapi malu-malu, sehingga aku menyapanya duluan.

“Mumtie dire” sapaku pada gadis kecil itu

“iya bu guru” jawabnya malu-malu dan tersenyum-senyum

Aku pun bingung dengan reaksi anak itu. Ia tersenyum seolah ada yang salah dengan ucapanku. Ku piker aku belum fasih menggunakan bahasa daerah mereka.

“Refefa dire, Bu guru” anak itu memperbaiki salam.

Ohh benar karena ini sore hari, seharusnya aku menyebut Refefa dire. Anak itu tertawa lucu, dikiranya aku bercanda. 🙂

6 respons untuk ‘Hi Kaitaro!

    • Green Frequency 24 Februari 2017 / 8:45 pm

      terimakasih sudah membaca 🙂

      Suka

  1. Fachri Djaman 25 Februari 2017 / 12:47 am

    Mantappp. Bisa mi buat Novel Traveling 😁

    Suka

    • Green Frequency 25 Februari 2017 / 2:34 am

      terimakasih 🙂

      Suka

  2. atrasina adlina 25 Februari 2017 / 8:19 am

    Asik ya udh ke Papua. Masih dalam bucket list yg gak tau kapan bisa dicoret. Hiks.

    Semangat untuk studinya yaa mozel.

    Suka

    • Green Frequency 25 Februari 2017 / 4:05 pm

      saya belum pernah ke papua kak. Tulisan papua ini, tulisan teman saya uni, yang jadi guru sm3t disana. blog ini memang project kolaborasi kami buat nyampein cerita di tanah tantas. hehehe.

      terimakasih sudah berkunjung 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s