Pergi

Rabu, 19 Agustus 2015

Hari ini aku bersiap-siap menuju tempat perantauan, menggunakan pesawat Sriwijaya Air dengan tujuan Manokwari yang take off pukul 02.30 WITA di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Ini kali pertamanya aku mengendarai pesawat. Semua biaya pemberangkatan hingga ke tempat perantauan dibiayai oleh pemerintah. Dulu waktu SD aku ingat pernah mengucapkan ingin terbang, terbang dengan pesawat gratis. Saat itu aku suka melipat-lipat kertas dan menjadikannya pesawat kecil untuk siap aku terbangkan dan sekarang aku mewujudakannya, Satu mimpi kali ini terwujud.

Dulu saat SMP, saat harus melanjutkan sekolah ke luar kota di kabupaten Bantaeng. Aku berpisah dengan orang tua selama 3 tahun. Aku menuliskan mimpi bahwa kelak tak hanya menginjak kabupaten lain, melainkan pulau lain di luar Sulawesi. Sekarang, aku mewujudkannya. Aku berada di tanah Papua, pulau paling timur Indonesia.

Dulu saat SMA, ketika aku mencari minat dan bakatku, setelah pernah bercita-cita menjadi dokter, aku akhirnya menemukan pilihan untuk menjadi seorang guru. Karena aku suka pada anak-anak. Aku suka melihat senyum mereka ketika puas memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Seperti aku sewaktu kecil yang penasaran bagaimana proses terbentuknya pelangi, penasaran akan langit malam yang dihiasi bintang-bintang, penasaran bagaimana kapal dapat terapung di lautam lepas, dan ribuan pertanyaan tentang alam yang membuatku haus untuk menemukan jawabannya. Sekarang aku telah lulus kuliah di jurusan pendidikan di bidang Fisika dan kini siap mengabdi pada negeri ini menyandang predikat guru.

Dulu juga saat berada di bangku kuliah, aku menuliskan sebuah mimpi ingin mengajar anak-anak yang tidak memiliki kesempatan belajar layaknya anak kota yang sering ku temui di tempat bimbingan belajar, kerja sampinganku saat kuliah menjadi tentor di salah satu bimbingan belajar terkenal di Makassar. Berbagai upaya kecil pun saya lakukan, salah satunya bergabung dengan komunitas di bidang sosial dan pendididkan, mereka suka mengajar anak-anak di pinggiran kota Makassar. Sekarang, aku mewujudkannya. Aku mengajar di daerah pelosok negeri kita ini. kampung Sara, distrik Kaitaro, kabupaten Teluk Bintuni, provinsi Papua Barat.

Baiklah aku jelaskan sedikit mengenai program pemerintah ini. Aku adalah salah satu peserta Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T). Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia SM-3T adalah suatu program pemerintah yang bertujuan mulia untuk membantu percepatan pembangunan dalam bidang pendidikan di daerah 3T. Program ini diberikan kepada sarjana pendidikan yang siap mengabdi di daerah terpencil dan tahun ini adalah tahun kelima program ini berjalan. Tentu tidak mudah untuk bisa sampai di titik ini, dari 2000an pendaftar di LPTK Universitas Negeri Makassar (UNM), hanya diterima 270 peserta dengan seleksi sangat ketat dimulai dari seleksi berkas, tes online, dan tes wawancara. LPTK UNM menempati tujuh daerah 3T yaitu kabupaten Waropen, Teluk Bintuni, Kepulauan aru, Maluku Tenggara Barat, Halmahera Utara, Mahakam Ulu, dan Berau. Tidak hanya UNM yang melaksanakan program ini. UNM adalah salah satu LPTK dari 13 LPTK lainnya di Indonesia.

Pukul 21.30 WITA sahabat-sahabatku mengantar ke Bandara. Sesampainya di bandara entah mengapa aku merasakan ketakutan yang amat besar. Padahal telah ku bulatkan tekatku. Telah ku luruskan niatku. Tetapi ketakutan itu menyerangku di saat-saat seperti ini. Aku takut, benar-benar takut, jantung tiba-tiba saja berdetak kencang, sulit sekali bernapas, air mata ingin sekali pecah tetapi segera saja ku tahan. Namun untung saja berhasil ku sembunyikan rasa takut itu. Dalam hal ini, aku handal menyimpan kesedihan di balik senyum yang ah mungkin bisa dikatakan palsu.

“Mengatasi kesedihan, ketakutan, dan amarah

bisa saja disembunyikan dibalik senyum, meski

harus merusak khas senyummu”

Aku takut bukan karena apa. Bukan karena perjalanan pertama kalinya mengendarai pesawat, apalagi ditambah terjadinya kecelakan pesawat tujuan papua sehari sebelum pemberangkatan, karena aku tahu Tuhan akan melindungi jalan pada tujuan yang baik. Aku takut bukan karena akan berjalan sendiri, meninggalkan keluarga dan mereka yang tersayang, karena aku tahu di setiap kepergian selalu ada kepulangan. Aku takut bukan karena akan berada jauh dari kampung halaman, karena aku tahu pada setiap jarak yang jauh, aku justru menabung rindu dan mengolahnya menjadi suatu kesyukuran karena pernah dan kelak akan bersama lagi.

“Perjalanan yang jauh akan mengajarkan kita

bagaimana mengolah rindu dan selalu saja ada kata syukur ketika bertemu lagi”

Aku berusaha menahan tangis karena ini konsekuensi untuk pilihan dan jalan yang aku tempuh. Aku telah berjanji pada diri sendiri untuk tidak meneteskan air mata di depan mereka orang-orang tersayang, namun ku berikan kesempatan diriku menangis sejadi-jadinya di pesawat, di saat semua teman peserta SM-3T lain telah terlelap. Bagaimana tidak, saat pemberangkatan, orang tuaku tidak dapat mengantar ke bandara. Aku iri pada mereka yang diantar oleh keluarga besar mereka, mempertontonkan keharmonisan keluarga mereka, memeluk satu per satu dan melambaikan tangan saat mereka menuju ke tempat check in. Sedangkan aku, aku tidak mempunyai kenangan seperti itu yang bisa aku rindukan ketika telah berada di tempat rantau. Akulah yang meminta Bapakku untuk tinggal di rumah saja. Ada banyak alasan yang membuat aku tidak memintanya mengantarku ke bandara. Karena Bapak telah mengenal aku sebagai sosok yang kuat, tak akan menangis dengan hal-hal sepele seperti ini. Jika Bapak, Ibu dan adik-adikku ada di sana, aku takut pertahananku tumbang saat melihat mereka melambaikan tangan menatapi kepergianku. Sekali lagi, ini konsekuensi atas pilihan yang aku pilih. Aku harus kuat hingga akhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s